Thursday, January 10, 2013

Sungguh : "Malam Jum'at"

Vita kembali merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Baginya banyak sekali kesedihan yang ia rasakan akhir-akhir ini, mulai dari sahabat baiknya yang tiba-tiba pindah ke kota lain tanpa memberitahu dirinya, sebuah masalah yang sangat mengganjal hatinya. Tiba-tiba saja ponsel nya bergetar pelan, ada sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak diketahui, “ah, siapa sih? Ganggu aja!” desahnya pelan, kemudian dengan malas ia melemparkan handphone nya ke kasur. 
Keesokan harinya seperti biasa Vita berangkat sekolah. 
“eh, Vit, udah ngerjain PR?” kata Ita tiba-tiba sambil menepuk punggung Vita. 
Vita mengangguk kemudian tanpa diperintah ia mengeluarkan sebuah buku kuning kecil dari tasnya. 
“Ini…” katanya pelan. 
“makasih ya..” kata Ita kemudian segera menyalin jawaban Vita ke buku PR.nya. 
Vita hanya mengangguk kemudian ia berjalan keluar kelas, duduk di bangku kosong yang ada di depan kelasnya. 
“Dooor!” kejut Nia. 
“Eh, Nia! ngagetin aja!” kata Vita sambil tersenyum menepuk bahu Nia 
“Kamu lagi kenapa sih? Enggak kaya biasanya, cerita dong sama aku…” Terus Nia kemudian menggenggam tangan kecil Vita 
“Enggak kok, enggak ada apa-apa…” 
“Yah.. yaudah deh.” Kata Nia kemudian tersenyum. 

*** 
Sepulang sekolah, Vita kemudian segera meninggalkan kelas. Seperti biasa dan sudah jadi tradisi kalau sepulang sekolah teman-teman Vita menanyakan sesuatu kepada Pak Karjo, penjaga sekolah Vita. Mereka menanyakan banyak hal, mulai dari urusan karier, pendidikan, dan yang paling sering ditanyakan adalah urusan cinta. Sebenarnya Vita hari ini sedang tidak enak badan dan juga malas. Tapi Vita terus menerus dipaksa oleh Ita sehingga akhirnya ia mengalah, toh ia hanya mengantar Ita saja. 
“Pak, nanti yang bakalan jadi jodohku siapa?” kata Ita dengan malu-malu. Vita hanya geli mendengarnya. 
“Aah, sudah pengen kawin ya kau? Jodoh itu urusan Tuhan. Kau tak perlu memikirkannya…” kata Pak Karjo bijak. 
“Yah, pak.. serius nih!” kata Ita seraya menyilangkan tangannya 
“Ya orangnya ada di deket kamu…” kata pak Karjo asal 
“Yes!. Si Itu bukan pak?” terus Ita lagi 
“Iyaa…” kata Pak Karjo lagi 
“Yes! Vit, katanya mau tanya? Cepetan!” kata Ita pelan sambil menyikut Vita. 
“Hah? Kan yang mau tanya kamu It, kok aku jadi ikut-ikutan…” Vita tertawa pelan. 
“Alah, gak usah boong, kalau mau Tanya, Tanya aja…” kata Ita lagi. Vita hanya diam. 
“Pak, ini temen saya lagi kena setan apa sih pak? Dari tadi pagi diem aja.” 
“Mungkin dia lagi ada masalah… sudahlah, bapak mau kerja…” kata Pak Karjo kemudian beranjak mengambil sapu dan menyapu ruang guru. 
“Tuh kan Vit! Keburu Pak Karjo.nya gak mau…” kata Ita 
“Lha, yang mau Tanya siapa? Cuss pulang yuk… udah mau jam 2.” Kata Vita menyeret tangan Ita. 
“Eh, malah ngalihin pembicaraan” Ita mendengus kesal 
“haha.. jangan marah dong say..” kata Vita seraya merangkulkan tangannya di pundak Ita 
“Eh, syukur deh, udah gak ngambek lagi” lanjut Ita, kemudian mereka berdua tertawa bersama. 
*** 
Ponsel Vita berdering. Ada sebuah pesan masuk. Lagi-lagi dari nomor yang tak dikenal. Kemudian Vita dengan malas membuka pesan tersebut 
“Vita ^^ Lama enggak ketemu! Eh, kata temenku ada yang minta nomornya Ita, itu loh, sahabatmu.” Vita membaca pesan singkat itu. 
“ini siapa?” balas Vita. 
“Vino, masih ingat enggak? Heheh..” balas nomor itu. Jantung Vita berdegup kencang ketika ia membaca pesan itu, ia tak menyangka bahwa Vino, akan mengirimkan pesan kepadanya. Bisa dibilang ia adalah penggemar rahasia Vino. 
“hah, mesti bales gimana ya?” kata Vita. “Iya, of course aku inget ^^. Gimana ya? Besok deh aku tanyain dulu ke Ita, heheh.. Ita ternyata punya penggemar rahasia juga ya? #kidding” Vita kemudian mengirim pesan itu. 
“OK! Makasih ^^ besok ya, beneran loh! Nanti temenku kecewa kalo enggak dikasih. Bye~” jawabnya.
“Eh kok udah sih?” Vita mengetik kata-kata itu kemudian menggantinya dengan “Bye~” kemudian ia mengirimnya ke Vino. 

*** 
“eh, Vit, udah ngerjain PR?” kata Ita tiba-tiba sambil menepuk punggung Vita. 
Vita mengangguk pelan kemudian tanpa diperintah ia mengeluarkan sebuah buku kuning kecil dari tasnya. 
“Ini…” katanya pelan. 
“makasih ya..” kata Ita. 
“Eh! Tunggu dulu!” kata Vita pelan sembari menarik tangan Ita. 
“Apaan sih? Mau belajar pelit nih ceritanya?” jawab Ita 
“Engga, aku Cuma mau bilang kalo temennya temenku ada yang minta nomor kamu udah itu aja boleh gak?” kata Vita sambil tersenyum lima jari 
“Orangnya ganteng enggak?” kata Ita sembari tersenyum 
“Gak tau…hehehe” jawab Vita 
“Yaudah gausah. Yang boleh minta nomorku Cuma artis sekelas Kyuhyun. Inget itu ya! Sekelas Kyuhyun!” Canda Ita 
“Iya deh, iya deh! Sekelas kyuhyun!” ulang Vita. 
*** 
Kini, hari-hari Vita terasa lebih cerah. Hari-harinya hanya diisi oleh saling kirim pesan. Walaupun topik yang dibahas hanya Ita, tapi itu sudah cukup bagi Vita. Ponsel Vita berdering lagi. Ada sebuah panggilan masuk, “Ah, siapa sih!” kata Vita kemudian mengangkat ponselnya. 
“Assalamualaikum?” Kata Vita 
“Waalaikum salam, Vit.. ini kamu kan? Ini aku Lea.. masih inget?” 
“Liya?” kata Vita. Ia tak kuasa menahan tangisnya “Li, kamu kemana aja? Aku udah kalang kabut nyari kamu… Aku kira kamu enggak bakalan punya kesempatan sama aku lagi…” kata Vita 
“Udah ah, jangan cengeng. Aku enggak pergi jauh.. Aku cuma pindah ke Semarang sama Ayahku..” kata Liya 
“Kamu kok gak bilang-bilang aku mau telefon, aku kangeen banget sama kamu..” kata Vita pelan sambil mengusap mata kecilnya. 
“eh neng, dari mana aja, aku udah berkali-kali telefon kamu. Eh malah kagak diangkat, hehehe… Sorry ya…” kata Liya dengan suara yang agak berat 
“It’s OK… enggak apa-apa. Masih bisa telefon sama kamu aja aku udah senang..” jawab Vita 
“Iya Vita.....” kata Liya pelan “udah jangan nangis, aku ada disini…” terusnya lagi 
“makasih Li.. udah mau nelefon aku…” jawab Vita 
“Eh, vit, udah dulu ya. Aku seneng banget kamu baik-baik aja… Bye.. Assalamualaikum..” sambung Liya 
“Waalaikum salam…” kata Vita. Tepat disaat Vita menutup telefonnya, ada sebuah pesan masuk. Ternyata dari Vino. 

“Assalamualaikum Vita! Udah boleh enggak nih nomornya?” Vita membaca pesan dari Vino 
“Belum boleh, eh, eh, kayaknya Si Ita udah mulai tertarik sama temenmu itu lohhh!” tulis Vita kemudian mengirim pesan tersebut ke Vino. 
“Ah~ Gawat!” Vita kembali membaca balasan pesan dari Vino. 
“Kenapa bang?” balas Vita cemas 
“Ah… jadi begini. Sebenernya yang minta nomor Ita itu aku, bukan temenku. Aku denger-denger sih Si Ita cantik ya? Hehehe.. boleh dong jadi temennya.. Comblangin juga boleh..” mata Vita berkaca-kaca kemudian dia dengan sigap meraih bantal di sampingnya dan membekapnya di mulutnya agar tak terdengar suara tangisnya. 
Ponsel Vita kembali berdering. Vino kembali mengiriminya sebuah pesan. Vita hanya tersenyum kecut. Ia tak peduli, dimata Vita sekarang Vino adalah seseorang munafik yang pembohong. Vita kemudian membaringkan tubuhnya di kasur dengan pelan dan mengusap matanya yang mulai sembab. Terlelap penuh dengan buaian air mata. 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...